Kerja Tim Investigasi Langkah Persuasif, Lsm Fokus Tolak Lakukan Permohonan Maaf

oleh -60 views

Parepare, – kembarogi.com – Hasil kerja Tim Investigasi yang dibentuk di sekolah dengan adanya postingan di ficebook oleh pemilik akun Adi Mulyadi yang menuliskan,

Orang Tua Siswa ” SD Negeri 3 “Mengeluhkan Iuran Uang Paguyuban Sebesar Rp. 20.000 di tengah Pandemik.

Membuat risau para orang tua siswa, guru dan pihak sekolah serta pengurus komite sekolah.

Berdasarkan hasil Tim investigasi yang diketua oleh H. Muhktar Abdullahi, mengungkapkan ke wartawan bahwa Tim sudah melakukan bentuk persuasif dengan memanggil pemilik akun ficebook atas nama Adi mulyadi untuk dimintai klarifikasi terkait postingannya.

” kami sudah memanggil yang bersangkutan untuk dimintai penjelasan terkait postingannya”

Namun melihat yang bersangkutan juga memiliki etikat baik dengan memenuhi undangan kami, membuat kami juga memberikan ruang agar semua permasalahaan ini sudah dianggap selesai, namun tetap kami meminta untuk memohon maaf kepada kami semua dan itu sudah dia lakukan ucapan permohonan maaf tersebut, namun untuk melalui media sosial, si adi mulyadi enggang melakukan itu.

” Atas dasar sikap koperatif yang diperlihatkan oleh Adi mulyadi untuk memenuhi undangan kami, sehingga kami hanya menerima ucapan maaf nya saja walau tidak melalui medsos lagi ”

Lanjut ketua tim mengungkapkan ini terjadi karena adanya miskomunikasi antara pihak penerima informasi dari sumber informasi orang tua siswa kelas V 1, informasi yang diterima dari bapaknya siswa tersebut tidak sesuai dengan informasi dari ibunya siswa,

Ayah siswa tersebut mengungkapkan ke pemilik akun karena dia melihat handphon istrinya didalamnya ada tagihan dari bendahara paguyuban sekolah, tetapi ayah siswa tidak menyampaikan dulu ke pihak istri, hanya langsung ke pemilik akun tersebut yang juga dia ( ayah siswa ) adalah anggota lembaga swadaya masyarakat, pada hal tagihan itu berupa uang arisan, jadi kami menarik kesimpulan bahwa kejadian ini hanya miskomunikasi antara ayah dengan ibu dari siswa tersebut. Jelasnya ke waratwan kembarogi via telpon, kamis, 15 oktober 2020.

Adanya kejadian yang seperti ini kepada semua pihak diharapkan agar menyampaikan ke pihak sekolah baik pihak Komite atau langsung ke kepala sekolah itu sendiri, bahkan kalo perlu di sampaikan kepada pengurus paguyuban terkait apa yang menimpa diri kita selaku orang tua siswa,

” walaupun itu sifatnya sumbangan atau apalah namanya, bila ada kegiatan paguyuban baik itu hal dana atau kegiatan itu diharapkan agar melandasi dengan rasa saling memahami, walau ditau maksud dan tujuan paguyuban itu baik dalam hal kebersamaan “, harapnya.

Sedangkan Adi mulyadi dihubungi via telpon mengatakan bahwa sudah kami penuhi undangan tim investigasi, namun kami tidak bisa memenuhi keinginannya untuk mengutarakan permohonan maaf melalui medsos, saya ( adi mulyadi ) maupun lembaga menolak karena kami merasa tidak bersalah,kami hanya memediasi orang tua siswa dan kami menyakini aturan yang ada bahwa dilarang melakukan pungutan apapun itu di sekolah.kata adi

Hal yang sama juga diungkapkan oleh sekertaris LSM Fokus, muh’taching arie fashie, bahwa kami memang melarang untuk melakukan permohonan maaf karena kami menyakini bahwa apa yang terjadi disekolah itu sangat tidak benar, sesuai dengan peraturan menteri pendidikan nomor 44 tahun 2012 dijelaskan bahwa tidak boleh ada pungutan apa pun bentuknya di sekolah, kalo pun itu sebuah sumbangan maka tidak di wajibkan dan tidak dipatok berapanilainya, namun yang terjadi disekolah ituada penetapan nilai dan rutin.

Seperti yang dialami orang tua siswa tersebut bahwa dia ( orang tua siswa ) ditagih dengan nilai tertentu.

Jadi kami mengambil kesimpulan bahwa kami tidak mau melihat ada pungutan dalam bentuk apapun itu di sekolah, apa lagi kondisi sekarang ini, dalam kondisi covid 19, jadi perlu distop saja pungutan pungutan itu, tegas muh’taching. ( ar )